JATIMTIMES - Awal Ramadan 1447 Hijriah tahun ini diperkirakan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga ujian daya tahan tubuh. Puasa yang kemungkinan dimulai sekitar pertengahan Februari 2026 bertepatan dengan periode puncak musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Artinya, potensi hujan lebat, angin kencang, hingga perubahan suhu ekstrem masih cukup tinggi, termasuk di kawasan Surabaya Raya dan sekitarnya.
Kondisi ini tentu perlu diantisipasi, karena cuaca tak menentu saat berpuasa bisa memicu gangguan kesehatan seperti flu, batuk, kelelahan, hingga daya tahan tubuh menurun.
Baca Juga : Putusan MA Final, Pemkot Kediri Tegaskan Komitmen Tuntaskan Pembangunan RTH Alun-Alun
Memasuki pertengahan Februari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode aktif musim hujan. Berdasarkan prakiraan curah hujan dasarian II Februari 2026, secara umum intensitas hujan berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 20–150 mm per dasarian.
Namun, sejumlah daerah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi atau lebih dari 150 mm per dasarian. Wilayah tersebut meliputi:
• Sebagian Banten
• Jawa Barat
• Jawa Tengah bagian tengah
• Sebagian kecil Jawa Timur
• Wilayah barat Pulau Timor
• Sulawesi Selatan bagian barat dan selatan
• Sulawesi Utara bagian utara
• Serta sebagian Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan
Dengan kondisi ini, awal Ramadan yang diperkirakan jatuh pada 18–19 Februari 2026 masih berada di tengah musim hujan. Wilayah selatan ekuator seperti Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprediksi masih sering diguyur hujan, bahkan berpotensi terjadi hujan sedang hingga lebat secara lokal.
Secara klimatologis, Indonesia umumnya mulai memasuki awal musim kemarau pada periode April hingga Mei 2026. Peralihan musim biasanya diawali dari Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, lalu meluas ke wilayah lain secara bertahap. BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan akan memberikan pembaruan jika terjadi perubahan signifikan.
Tips Tetap Sehat Saat Puasa di Tengah Cuaca Ekstrem
Perpaduan puasa dan cuaca lembap serta dingin bisa membuat tubuh lebih rentan. Berikut beberapa langkah sederhana agar tetap bugar:
1. Perkuat Asupan Gizi Saat Sahur dan Berbuka
Baca Juga : Ramalan Zodiak 6 Februari 2026: Gelombang Emosi Datang, 6 Zodiak Ini Alami Perubahan Besar
Pilih makanan tinggi protein, serat, serta vitamin seperti sayur hijau, buah, telur, ikan, dan kacang-kacangan. Hindari terlalu banyak gorengan dan makanan tinggi gula karena bisa membuat tubuh cepat lemas.
2. Cukupi Kebutuhan Cairan
Udara lembap sering membuat orang tidak merasa haus, padahal tubuh tetap butuh cairan. Gunakan pola 2–4–2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas malam hari, 2 gelas saat sahur) agar tidak dehidrasi.
3. Jaga Daya Tahan Tubuh
Tidur cukup minimal 6–7 jam, konsumsi vitamin bila perlu, dan tetap lakukan aktivitas fisik ringan seperti stretching atau jalan santai setelah berbuka.
4. Waspada Penyakit Musim Hujan
Gunakan jaket atau pakaian hangat saat udara dingin, hindari kehujanan terlalu lama, dan segera mandi serta ganti pakaian jika tubuh basah.
5. Atur Aktivitas Fisik
Jika cuaca sedang panas lembap atau setelah hujan deras, tubuh bisa cepat lelah. Kurangi aktivitas berat di siang hari dan manfaatkan waktu menjelang berbuka untuk istirahat.
6. Jaga Kebersihan
Musim hujan identik dengan kuman yang lebih mudah berkembang. Rajin cuci tangan, konsumsi makanan matang, dan hindari jajan sembarangan.
Cuaca mungkin tidak bisa dikendalikan, tetapi kondisi tubuh bisa dipersiapkan. Dengan pola makan tepat, istirahat cukup, dan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, puasa tetap bisa dijalani dengan nyaman dan sehat meski hujan masih sering turun.
