JATIMTIMES - Tekanan harga bahan pangan kembali mendorong inflasi di Kota Malang pada Februari 2026. Setelah sempat mencatat deflasi pada bulan sebelumnya, Februari 2026 justru ditutup dengan lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mendorong inflasi bulanan meningkat.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik, inflasi Kota Malang tercatat sebesar 0,74 persen (month to month). Secara tahunan, inflasi berada di level 4,81 persen (year on year), sedikit lebih rendah dibandingkan Jawa Timur, namun masih di atas rata-rata nasional.
Baca Juga : Politik Definisi: Mengapa Sawit Mendadak Menjadi "Pohon"?
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan bahwa tekanan inflasi Februari terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,48 persen (mtm). Melihat kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi memengaruhi produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan, sementara permintaan masyarakat mulai meningkat menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
“Peningkatan harga pangan segar menjadi faktor dominan. Curah hujan yang masih tinggi berdampak pada pasokan, sementara permintaan mulai meningkat menjelang Ramadan 1447 Hijriah,” ungkap Indra, Selasa (3/3/2026).
Sejumlah komoditas tercatat memberi andil signifikan terhadap inflasi Februari 2026, yakni cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi, sebesar 0,20 persen (mtm). Kenaikan harga juga terjadi pada emas perhiasan dengan andil 0,17 persen (mtm), seiring tren penguatan harga emas global.
Selain itu, daging ayam ras menyumbang 0,10 persen (mtm), telur ayam ras 0,07 persen (mtm), serta cabai merah 0,02 persen (mtm).
Meski demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi masih tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Bensin tercatat memberi andil deflasi sebesar -0,05 persen (mtm) setelah adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 1 Februari 2026.
Beberapa komoditas hortikultura seperti wortel, sawi putih, dan bawang merah juga mengalami koreksi harga dengan andil masing-masing -0,01 persen (mtm) karena pasokan yang tetap terjaga. Penurunan tarif kereta api dalam rangka program diskon Angkutan Lebaran 2026 turut memberikan andil deflasi sebesar -0,01 persen (mtm).
Baca Juga : Ngabuburit Dekat Rel Kereta Berisiko Fatal, Warga Malang Diminta Patuhi Aturan
Indra menegaskan, tekanan inflasi di Kota Malang masih sejalan dengan perkembangan di tingkat provinsi dan nasional. Berbagai langkah pengendalian terus diperkuat melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Mulai dari pelaksanaan Gerakan Pangan Murah serentak pada 13 Februari 2026 serta kegiatan serupa di 34 titik lokasi pada 23 Februari hingga 17 Maret 2026. Selain itu, monitoring harga rutin, inspeksi mendadak pasar oleh Satgas Pangan pada 19 Februari 2026, serta dukungan fasilitasi distribusi dan ongkos angkut komoditas turut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan.
“Kami akan meningkatkan intensitas pemantauan menjelang Idul Fitri. Sinergi antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia terus diperkuat agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga,” tegasnya.
Melalui penguatan strategi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif, stabilitas harga di Kota Malang diharapkan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5 ± 1 persen (yoy), meski menghadapi peningkatan permintaan musiman selama Ramadan dan menjelang Lebaran.
