Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Riset: Kritik Pendidikan dan Kurikulum Meningkat di Medsos, Sentimen Negatif Tembus 68%

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

27 - Feb - 2026, 21:56

Placeholder
Grafis hasil Analisis Sentimen dalam Riset Pendidikan dan Kurikulum di TikTok. (FOTO: Powered by BeData Technology)

JATIMTIMES - Isu pendidikan dan kurikulum di Indonesia ternyata lebih banyak menuai kritik ketimbang pujian. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru BeData Technology bertajuk Analisis Sentimen dalam Riset Pendidikan dan Kurikulum yang dirilis pada Jumat (27/2/2026). 

Berdasarkan pengolahan lebih dari 9.000 komentar netizen di YouTube dan TikTok, sentimen publik terhadap pendidikan didominasi nada negatif atau skeptis. Bahkan untuk isu kurikulum, sentimen negatif menembus angka 68%.

Logo BeData Technology. (FOTO: istimewa)

Logo BeData Technology. (FOTO: istimewa)

Baca Juga : Survei: 43,7% Publik Dukung Redenominasi Rupiah, Sentimen Positif Ungguli Penolakan

Dalam analisis di YouTube, BeData mencatat mayoritas 870 komentar soal pendidikan bernada negatif. Sementara komentar positif berjumlah 325 dan netral 186.

Secara persentase, lebih dari setengah opini publik terhadap pendidikan bersifat negatif, yakni 63,0%. Sentimen positif berada di angka 23,5%, sedangkan netral hanya 13,5%.

“Rendahnya sentimen netral menunjukkan audiens cenderung menyampaikan opini secara emosional, bukan sekadar informatif,” tulis laporan BeData Technology yang diterima JatimTIMES, Jumat (27/2/2026). 

Untuk topik kurikulum, jumlah komentar negatif bahkan lebih dominan. Tercatat 2.860 komentar negatif, 756 positif, dan 590 netral.

Secara persentase, 68,0% percakapan tentang kurikulum didominasi sentimen negatif. Sentimen positif hanya 18,0%, dan netral 14,0%. “Hasil ini menunjukkan isu kurikulum sebagai topik yang sensitif dan memicu reaksi kuat,” demikian isi laporan.

Dalam rekap keseluruhan, sentimen negatif mencapai 63,4% pada pendidikan dan 68,1% pada kurikulum. Sentimen positif berada di posisi kedua, yakni 23,3% pada pendidikan dan 18% pada kurikulum.

Analisis word cloud menunjukkan kata “guru”, “sekolah”, “anak”, dan “orang” mendominasi sentimen negatif topik pendidikan. Artinya, kritik publik banyak diarahkan pada aktor dan institusi utama pendidikan.

Hal serupa terjadi pada isu kurikulum. Kata “guru”, “sekolah”, “kelas”, dan “anak” paling sering muncul dalam komentar bernada negatif.

“Hal ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap perubahan kurikulum yang dinilai tidak konsisten serta kekhawatiran orang tua terhadap dampaknya pada proses belajar anak,” tulis BeData.

Meski demikian, sentimen positif tetap ada. Pada topik pendidikan, kata “pendidikan”, “guru”, dan “anak” mendominasi komentar positif, mencerminkan harapan bahwa pendidikan tetap menjadi fondasi masa depan.

Pada kurikulum, kata “sekolah”, “pendidikan”, “guru”, “anak”, dan “belajar” mencerminkan dukungan terhadap kurikulum yang dinilai mampu menunjang proses belajar.

Di TikTok, pola serupa juga terjadi. Dari total 3.071 komentar yang dianalisis, 1.910 bernada negatif, 626 positif, dan 535 netral.

Secara persentase, 62,2% komentar bernada negatif, 20,4% positif, dan 17,4% netral. “Sentimen negatif mendominasi 62,2%, menunjukkan sikap warganet yang kritis dan tidak puas terhadap kondisi pendidikan serta kebijakan kurikulum di Indonesia,” tulis laporan BeData.

Kata “guru” dan “sekolah” kembali mendominasi sentimen negatif. Sementara dalam sentimen positif, kata “anak”, “guru”, “sekolah”, dan “pendidikan” mencerminkan harapan publik terhadap perbaikan sistem.

Dalam laporan akhirnya, BeData menyimpulkan bahwa isu dengan resistensi tertinggi adalah digitalisasi pendidikan dan perubahan kurikulum yang dinilai terlalu sering berganti.
Publik disebut mengalami change fatigue atau kelelahan terhadap perubahan kebijakan.

Baca Juga : Polisi Berpeci dan Bersorban Saat Demo BEM UI di Mabes Polri Jadi Sorotan, Ini Tuntutannya

“Mayoritas komentar bukan menolak perbaikan, melainkan menolak inkonsistensi,” tulis laporan tersebut.

Penghapusan Ujian Nasional (UN) juga kerap disebut sebagai penyebab turunnya motivasi belajar siswa.

“Sejak UN ditiadakan, rasanya jiwa kompetisi dan belajar anak2 sekolah turun banget. Karena merasa pasti naik kelas dan lulus,” tulis salah satu komentar yang dikutip dalam laporan.

Isu kesenjangan pendidikan juga kuat, terutama perbandingan fasilitas antara Jawa dan luar Jawa.

“Saya seorang guru di desa terpencil di pulau Kalimantan, bantuan jaringan internet berhenti karena tidak ada anggaran,” tulis contoh komentar lainnya.

Digitalisasi pendidikan disebut memiliki sentimen terburuk karena menyangkut persoalan teknis sehari-hari, terutama infrastruktur dasar seperti listrik dan sinyal internet.

“Sinyal di daerah saya susah banget, gimana mau digitalisasi pendidikan kalau internet lemot?” tulis warganet.

Tak hanya itu, isu krisis karakter Gen Z juga muncul. Sebagian guru merasa ruang pendisiplinan makin sempit karena takut dilaporkan orang tua.

“Anak skrg itu gurunya masa bodo, ga pake kekerasan kyk jaman kita dulu. Dikerasin tar dilaporin polisi sm ortunya,” bunyi komentar lain.

Berdasarkan opini publik, BeData memberikan tiga rekomendasi strategis dalam penelitian ini. Pertama, Infrastructure First, yakni menghentikan ekspansi aplikasi digital sebelum akses internet di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) merata.

Kedua, stabilitas regulasi dengan moratorium perubahan kurikulum drastis untuk mengembalikan kepercayaan publik.

Ketiga, perlindungan guru melalui regulasi jelas terkait batas pendisiplinan siswa agar tenaga pendidik tidak takut menjalankan perannya.

Kesimpulannya, kritik publik terhadap pendidikan Indonesia didominasi keinginan untuk perbaikan yang konsisten, merata, dan berpihak pada realitas di lapangan.


Topik

Pendidikan Riset Kritik Pendidikan Kurikulum Medsos Sentimen Negatif



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Yogyakarta Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan