Diskusi Multidisipliner Pascasarjana Unikama Soroti Tantangan Nyata Pendidikan dan Manajemen Global
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
A Yahya
17 - Jan - 2026, 02:20
JATIMTIMES - Perubahan global yang bergerak cepat, mulai dari disrupsi teknologi, ketimpangan sosial, hingga tuntutan kompetensi lintas sektor, memaksa dunia pendidikan untuk tidak lagi berjalan di jalur tunggal. Isu inilah yang mengemuka dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), belum lama ini secara daring melalui Zoom.
Forum ini tidak dibingkai sebagai ajang formalitas akademik, melainkan ruang refleksi kritis lintas disiplin yang mempertemukan perspektif pendidikan dan manajemen. Sejak awal kegiatan, ratusan peserta, mayoritas mahasiswa pascasarjana, terlibat aktif mengikuti paparan dan diskusi, menandai tingginya kebutuhan akan forum akademik yang relevan dengan problem nyata di lapangan.
Baca Juga : Forkopimda Gelar Rakor Bahas Konflik SMK Turen, Sepakat Pembelajaran Berjalan Kondusif
Direktur Sekolah Pascasarjana Unikama, Sulistyo, dalam pengantarnya menyoroti kecenderungan dunia akademik yang kerap terjebak pada pendekatan normatif dan teoritis. Menurutnya, tantangan global tidak bisa dijawab dengan pola pikir lama yang memisahkan disiplin ilmu secara kaku.

“Kita tidak sedang mengejar rutinitas akademik. Dunia kerja, dunia sosial, dan dunia kebijakan bergerak jauh lebih cepat daripada silabus,” tegasnya.
Ia menambahkan, lulusan pascasarjana dituntut memiliki kemampuan adaptif, berpikir lintas sektor, serta keberanian merumuskan inovasi yang berpijak pada realitas masyarakat. Tanpa itu, pendidikan tinggi berisiko kehilangan relevansinya di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
"Karena itu, refleksi multidisipliner menjadi penting agar pendidikan pascasarjana tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi mampu membaca konteks dan menawarkan solusi yang masuk akal," paparnya.
Bagi Sekolah Pascasarjana Unikama, forum semacam ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga relevansi pendidikan tinggi di tengah tekanan global. Diskusi lintas disiplin tidak hanya diposisikan sebagai wacana, tetapi sebagai langkah awal membangun cara pandang baru dalam merespons persoalan pendidikan dan manajemen yang semakin kompleks.
Seminar ini menghadirkan empat pemateri dari latar belakang keilmuan berbeda, yakni La Ode Abdul W, M.Pd; Veronika Nanlohy, MM; M. Azharul Lail J, MM; dan Samsul Arifin, M.Pd. Masing-masing membedah tema besar seminar dari sudut pandang yang berbeda, mulai dari inovasi pembelajaran, kepemimpinan pendidikan, hingga strategi manajemen yang responsif terhadap perubahan sosial dan ekonomi.
Baca Juga : Cat Warna-warni Surai Kuda di Bromo Tuai Banyak Kritik, Amankah untuk Kesehatan?
Paparan para narasumber tidak berhenti pada konsep ideal. Sejumlah contoh konkret diangkat untuk menunjukkan bagaimana kebijakan pendidikan, tata kelola lembaga, dan pendekatan manajerial perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Diskusi pun berkembang ke isu-isu praktis, seperti kesiapan institusi pendidikan menghadapi digitalisasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta peran kepemimpinan dalam mendorong budaya inovasi.
Interaksi peserta menjadi salah satu titik kuat seminar ini. Mahasiswa pascasarjana tidak hanya mengajukan pertanyaan klarifikasi, tetapi juga menyampaikan kritik dan pengalaman empiris dari konteks kerja maupun penelitian mereka. Dialog dua arah ini menciptakan suasana diskusi yang hidup, meski berlangsung secara daring.
Selain sebagai ruang diskursus, seminar ini juga diarahkan untuk mendorong produktivitas akademik peserta. Panitia membuka kesempatan bagi para pemakalah untuk mempublikasikan artikel ilmiah dalam prosiding ber-ISBN. Skema ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan mereka secara akademik sekaligus memperkuat rekam jejak publikasi ilmiah.
Melalui seminar nasional ini, Unikama menegaskan arah pengembangan pascasarjana yang tidak terlepas dari realitas sosial. Gagasan yang lahir dari ruang diskusi diharapkan tidak berhenti sebagai catatan akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi praktik dan kebijakan yang lebih adaptif, inklusif, dan kontekstual.
