Digerus Toko Online, Pasar Buku Velodrome Kota Malang Kian Mati Suri

Reporter

Hendra Saputra

Editor

Dede Nana

25 - Mar - 2026, 02:27

Munif, pedagang buku di Pasar Buku dan Seni Velodrome (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kondisi Pasar Buku dan Seni Velodrome di Kota Malang kian memprihatinkan. Aktivitas jual beli buku tampak lesu. Dari puluhan bedak yang tersedia, hanya segelintir yang masih membuka lapak, sementara sebagian lainnya memilih tutup bahkan beralih profesi demi bertahan hidup.

Pantauan di lokasi pada Rabu 25 Maret 2026 menunjukkan banyak rolling door kios yang tertutup rapat. Beberapa bedak yang masih buka pun tidak lagi sepenuhnya menjual buku. Ada yang beralih menjadi warung kopi, bahkan disulap menjadi kafe sederhana yang lebih ramai pengunjung dibanding lapak buku.

Baca Juga : Mahasiswa di Kota Malang Diduga Bunuh Diri Loncat dari Apartemen, DPRD Sentil Kampus, Pemerintah hingga Keluarga 

Salah satu pedagang buku, Munif, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak para pedagang direlokasi pada 2008 dari kawasan Pasar Buku Jalan Sriwijaya atau depan Stasiun Malang Kota Baru, penjualan buku terus mengalami penurunan.

“Ya kondisinya seperti ini. Ya gini ini perkembangannya, banyak kemundurannya malahan. Penjualannya itu berkurang. Sekarang banyak orang-orang ambil praktisnya beli di toko online,” kata Munif.

Menurut Munif, kondisi ini bukan hal yang mengagetkan. Dalam tiga tahun terakhir, penjualan buku di tokonya kerap nihil. Jika beruntung, hanya satu hingga dua pembeli yang datang dalam sehari.

“Kebanyakan sih mahasiswa. Mereka mencari novel atau buku motivasi diri begitu,” kata Munif.

Meski sepi, pasar ini masih menjadi incaran sebagian mahasiswa karena harga buku yang relatif murah. Majalah bahkan bisa didapat dengan harga Rp10 ribu untuk tiga buku, sementara novel atau buku nonfiksi populer dijual di bawah Rp50 ribu.

Diketahui, jumlah pedagang buku di Pasar Buku dan Seni Velodrome mencapai sekitar 71 orang. Namun, banyak di antaranya kini memilih menutup lapak karena dianggap tidak lagi menguntungkan. Sebagian beralih menjual tempe keliling, sementara lainnya membuka usaha kopi.

“Ada yang sekarang jualan tempe, ada yang punya di Pasar Buku Wilis. Kalau di sini tutup banyak memang. Kurang ramai sekarang,” kata Munif.

Baca Juga : Pegawai Dispora Kabupaten Malang Ciptakan Inovasi Mesin Roll yang Efisien Rawat Rumput Stadion Kanjuruhan

Fenomena ini juga mengubah wajah pasar. Meski pengunjung terlihat ramai, sebagian besar datang untuk menikmati kopi, bukan berburu buku seperti dulu.

Munif sendiri mengaku ingin mencoba usaha lain. Namun ia tetap bertahan menjual buku karena sudah menjadi sumber penghidupan utamanya. “Tetap berjualan buku alasannya kalau pribadi saya ini seperti sawah saya sendiri. Sawah saya ini ya cuma itu alasannnya. Sehari-hari pendapatannya ya dari sini,” tuturnya.

Ia mengenang masa kejayaan pasar buku tersebut pada era 2010-an. Saat itu, pembeli cukup ramai, bahkan bisa mencapai lima orang per hari. Aktivitas juga sempat menggeliat pada masa pandemi covid-19. Namun, menurutnya, penurunan drastis mulai terasa sejak 2023. “Ya tiga tahun lalu itu mulai sepi. Gak tahu ya kenapa,” keluh Munif.

Selain sepinya pembeli, kondisi fisik bangunan juga memperparah situasi. Atap seng terlihat reot, berkarat, dan tidak lagi layak pakai. Beberapa bagian tampak melengkung dan penyok. Rolling door kios dipenuhi coretan vandalisme berlapis dengan berbagai warna, mempertegas kesan kumuh dan tak terawat di kawasan tersebut.